The strategies, techniques, tools and technologies for successful Reliability Centered Maintenance (RCM), Enterprise Asset Management (EAM/CMMS) and Maintenance Training are well known and documented yet a large percentage of this improvement initiatives fail to produce results. Please take a moment to share your biggest challenge relating to Reliability Centered Maintenance, Enterprise Asset Management and Maintenance Training Thank you for participating.
Sabtu, 31 Mei 2014
Memilih Pemimpin
Agama dan Politik
Tidak Golongan Putih Golput
Tidak Golput, Sing Penting Ojo Kuwi
Mei 22, 2014 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Berbicara masalah politik menurut sebagian orang tabu. Iya memang kalau tidak ada urgensinya, memang tidaklah penting. Apalagi saban waktunya hanyalah untuk politik, melupakan agamanya. Namun pembicaraan ini kadang menjadi urgent tatkala masyarakat bingung manakah yang mesti dicoblos ketika digelontorkan pada dua pilihan. Yang satu sekuleris, yang satu lebih ringan mudaratnya. Kami memilih tidak golput, namun sing penting ojo kuwi.
Memberi Saran untuk Memilih
Jika ada yang meminta nasehat untuk memilih salah satu pilihan, maka boleh kita memberikan saran dan masukan, lantas mengkritik salah satunya dan menyarakankan memilih yang lebih mending. Perhatikan tentang kisah Fatimah binti Qais ketika meminta saran pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, manakah di antara pilihan yang mesti ia pilih.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyarankan pada Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha untuk menikah dengan Usamah, dibanding dengan dua laki-laki yang telah melamarnya yaitu Mu’awiyah dan Abu Jahm. Beliau berkata pada Fatimah,
أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.
“Abu Jahm itu biasa memukul istri. Sedangkan Mu’awiyah itu miskin (tidak punya banyak harta). Nikahlah saja dengan Usamah bin Zaid.” Fatimah berkata, “Aku awalnya enggan.” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Nikahlah dengan Usamah.” Akhirnya, aku memilih menikah dengan Usamah, lantas Allah mengaruniakan dengan pernikahan tersebut kebaikan. Aku pun berbahagia dengan pernikahan tersebut. (HR. Muslim no. 1480).
Jadi tak ada salah jika mengghibah (menggunjing) dalam kondisi memberikan saran pada orang yang butuh seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala memberikan saran pada Fatimah binti Qais.
Memilih yang Lebih Ringan Mudaratnya
Ibnu Taimiyah berkata,
لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْن
ِ
“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 54).
Para ulama juga biasa menyatakan suatu kaedah,
ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن
ِ
“Mengambil bahaya yang lebih ringan.”
Kaedah di atas bisa kita bisa ambil dari kisah Khidr yang disebutkan dalam ayat berikut,
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al Kahfi: 79).
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Khidr adalah untuk mengambil bahaya yang lebih ringan dari dua bahaya yang ada. Khidr sengaja menenggelamkan kapal milik orang miskin, ini adalah suatu mafsadat (bahaya). Namun bahaya ini masih lebih ringan dari hilangnya seluruh kapal yang nanti akan dirampas oleh raja yang zalim.
Begitu pula ayat yang menceritakan bahwa Khidr membunuh seorang anak karena khawatir orang tuanya tersesat dalam kekafiran, itu juga mendukung kaedah yang dimaksud. Dalam ayat disebutkan,
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا
“Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al Kahfi: 80).
Membunuh anak muda itu adalah suatu mafsadat, sedangkan kesesatan dan kekafiran adalah mafsadat yang lebih besar.
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani membuat kaedah,
ارتكاب أخف المفسدتين بترك أثقلهما
“Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462)
Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah,
جواز ارتكاب أخف الضررين
“Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431)
Penerapan kaedah di atas bisa diterapkan pada masalah lainnya seperti kita dapat melihat dalam ayat yang menyatakan bolehnya memakan bangkai,
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْه
ِ
“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. Al Baqarah: 173).
Di sini nampak ada dua mafsadat. Mafsadat pertama, diri bisa binasa (mati). Mafsadat kedua, memakan bangkai. Ketika bertabrakan dua mafsadat semacam ini, maka yang ditinggalkan adalah maslahat yang lebih besar dan memilih mafsadat lebih ringan yaitu memakan bangkai.
Kaedah itu pun bisa diterapkan tatkala memilih seorang pemimpin dengan jalan Pemilu. Ada dua mafsadat (kerusakan) dalam Pemilu. Pemilu sendiri bukanlah jalan syar’i. Namun jika tidak memilih maka akan membesarkan ruang gerak para penjahat, musuh Islam, kaum liberal dan Syi’ah. Karena mempertimbangkan kaedah ini, jadinya memilih caleg muslim dan baik lalu kerusakan yang lebih ringan yang dipilih.
Daripada Memilih yang Lebih Rusak
Guru penulis, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok -ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia-berkata,
“Munculnya cara pemilihan umum tingkat daerah dan semacamnya, atau pemilihan penguasa pada wilayah lainnya adalah di antara bentuk taqlid (sekedar ikut-ikutan) dan tasyabbuh (menyerupai orang kafir) yang dimasukkan atau diimpor ke tengah-tengah kaum muslimin.
Asalnya (yang benar), ulil amri (kepala negara) berijtihad untuk memilih orang yang capable (memiliki kemampuan) dan sholeh untuk mengurusi rakyat yang berada di bawah kekuasaannya. Ulil amri di sini meminta nasehat kepada orang-orang yang ahli di bidangnya dan menghendaki kebaikan bersama. Akan tetapi, jika rakyat diminta untuk menyumbangkan suara dalam pemilihan, maka hendaklah para penuntut ilmu (yang perhatian pada agamanya), juga orang-orang yang baik-baik ikut serta dalam memilih caleg yang baik dari sisi agama dan dunia. Hal ini dilakukan agar orang-orang bodoh, orang yang gemar bermaksiat (fasiq), dan orang yang sekedar mengikuti hawa nafsu tidak menang dengan memilih pemimpin yang sesuai dengan hawanya (keinginannya) dan orang yang sejenis dengan mereka.
Jika orang-orang baik turut serta memilih, maka ini akan memperbanyak kebaikan, kejelekan pun berkurang sesuai dengan kemampuan yang ada. Sunggun Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At Taghaabun: 16). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az Zalzalah: 7)
Hikmah dari ini semua: Seorang hendaknya berusaha mewujudkan kebaikan sesuai dengan kemampuannya dan bukan kewajiban baginya untuk menyempurnakan tujuan.
Kita memohon kepada Allah untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dan semoga Allah menjadikan pemimpin adalah orang-orang terbaik di antara mereka. Wallahu a’lam.” (Fatwa Ulama Tentang Coblos dalam Pemilu)
Meminimalkan Ruang Gerak Penjahat
Kita tahu bahwa demokrasi bukanlah cara Islam dalam memilih pemimpin. Namun agama ini bisa saja jadi tegak lewat orang-orang yang fajir atau keji.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal pada saat perang Khoibar untuk menyeru manusia dengan mengatakan,
إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِر
ِ
“Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa-jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini lewat orang yang fajir (keji, ahli maksiat)” (HR. Bukhari no. 3062 dan Muslim no. 111)
Sebagian saudara kita memberikan tanggapan bahwa sungguh sia-sia keberadaan orang baik di Parlemen. Atau mereka katakan bahwa partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam. Komentar seperti ini tidak tepat sasaran.
Ingat bahwa menggunakan hak suara dalam Pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan Islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.
Lihatlah dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau membuat perjanjian damai atau kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan syari’at Islam.
Beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab-kitab sirah dan dikisahkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.
Demikian fatwa ulama yang membolehkan menggunakan hak suara pada Pemilu mendatang juga maksud mereka adalah seperti itu.
Memilih untuk Golput?
Golput dalam pemilihan Presiden kali ini apakah tepat?
Menurut kami, cobalah ditimbang-timbang. Karena salah satu pesaing bila terpilih akan membuat ibu kota kita akan dikuasai non muslim dan ini berarti terulang untuk kedua kalinya. Partainya pun terkenal sekuler, menentang ditutupnya tempat prostitusi dan menolak Perda larangan Miras. Syi’ah dan non muslim akan berani menyuarakan aspirasinya karena banyak wakil rakyat seperti itu di partai tersebut. Sedangkan lawannya lebih cenderung membela Islam dan pernah menyuarakan untuk mencegah lajunya aliran sesat di tanah air.
Masih terlalu banyak di antara kita yang tidak terbiasa dan gerah menghadapi perbedaan pendapat dalam wilayah ijtihadiyah. Namun tetaplah hal ini mesti disampaikan walau itu pahit. Abu Dzarr pernah dinasehati oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَأَمَرَنِى أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا
“Beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir)
Kami membicarakan masalah Capres kali ini karena tuntutan maslahat. Setiap muslim bingung, manakah yang harus dipilih. Namun kecenderungan kami pada satu capres bukan berarti itu jadi pendapat Salafi secara umum, yang lain barangkali lebih senang memilih Golput dan kami pun tidak memaksa.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita pemimpin yang terbaik. Apa pun hasil pemilihan presiden besok, tetap wajib ditaati. Walau ternyata pemimpin tersebut bukan pilihan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْك
َ
“Hendaklah engkau dengar dan taat kepada pemimpinmu baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah, baik dalam keadaan rela ataupun dalam keadaan tidak suka, dan saat ia lebih mengutamakan haknya daripada engkau.” (HR. Muslim no. 1836).
Namun ikhtiyar mesti ada, demi meraih yang terbaik. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
—
Selesai disusun menjelang Ashar, 22 Rajab 1435 H di Pesantren DS Gunungkidul
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom
—
http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/tidak-golput-sing-penting-ojo-kuwi-7665
Kamis, 29 Mei 2014
How to Critism Your Subordinates
Effective criticism and discipline will keep your team on track
MONDAY, 08 OCTOBER 2012 00:00
If you are a manager, supervisor and a team leader of a business organisation, I ask you the following question, what would be your answer? ‘What is your most unnerving task as a leader--the task that you’d most like to avoid?’
I bet your answer goes something like this: “Giving someone the ‘bad news’--telling someone on my team that his or her performance is not up to par.”
If giving negative feedback disturbs you, don’t be alarmed. Research findings indicate that practicing leaders in a wide range of organisations and industries view the task of ‘criticizing’ subordinates--giving them negative feedback--as one of the most stressful tasks they face. Apparently, a very few people enjoy playing the role of ‘bearer of ill tidings’ and having to watch other people learn that their work has somehow been lacking.
Unfortunately, particularly in times of crisis, this reluctance to deliver negative feedback can prove very costly to the organisation. Consider how the process often unfolds. If you are hesitant to criticize, you don’t deliver it when the problem starts. Thus, poor performance and related problems may persist and even, intensify over time. Eventually, since you are in authority, you must take corrective action--as the responsibility for poor performance ultimately rests with you.
By this time, you would have reached the end of your own emotional rope and simply cannot tolerate the current state of affairs any longer. Then, criticism is unlikely to be effective. Instead of helping recipients improve--the ‘only’ rational reason for delivering negative feedback--the criticism tends, instead, to anger or provoke them. And from the recipient’s perspective, such reactions make eminent sense: “If I haven’t been doing a good job,” he might ask, “why didn’t you tell me sooner?”
Before you criticise
Four decades ago, it was back at an Indian university that I first came across this technique for improving the way we criticise. It was taught to us by our sociology professor. Today, I find a refined version of the same method termed as the Sandwich technique.
But before you use it to criticise, it might be useful to stop and think for a few minutes. Ask yourself:
4Is this something worth bringing up?
4Is there really a problem?
4If there is, is it really big or just something I have magnified in my mind?
4May be I’m just feeling angry/down/sour and want to express those feelings by lashing out?
Think about those questions. Be absolutely sure that there is a real need to criticize.
Sandwich technique
4Praise the employee. To avoid making criticism seem totally negative, it’s important to touch on the employee’s strong points as well. For example, if the employee regularly submits accurate and information-filled reports, you could say, “Sanath, your reports are both informative and helpful to the company. You are doing very well.”
4Tell the employee you’ve noticed a few things he could improve on. Reference your list of the employee’s shortcomings. Explain each item on the list in detail. For example, if you tell the employee he needs to communicate better with customers, explain how his communication skills appear substandard. Suppose the employee appears rude to customers. Give the employee examples of how he appears rude. The employee needs to understand exactly what he’s doing wrong.
4Explain how the employee can improve on his shortcomings. When you constructively criticize someone, you must give him strategies to improve on his faults. For example, if an employee often comes in late, tell him to set his alarm for an earlier time, leave 15 minutes before he usually does or carpool with another employee.
4End with encouragement, with how solving this could improve his performance, efficiency and productivity and raise the level of his acceptance in the workplace even more. By giving reasons to fix his shortcomings, you offer him a powerful motivator to get the issues handled.
Why should you use this technique?
4It’s effective because it doesn’t put the criticised in too much of a defensive or awkward position. He will often be more receptive to your criticism if you start on a positive note than if you just blurt out your negative thoughts.
4It ends on a positive and constructive note. This does less damage to the relationship between the one criticising and the critiqued. Ending a meeting just when you’ve delivered negative criticism is not a great idea. The future of that relationship could get damaged.
Tips
What makes criticism constructive rather than destructive? From my own insights as well as systematic research, I have formulated a short list of points to consider before, during and after criticizing others.
4Criticize in private and praise in public: Public criticism makes everyone uncomfortable and it makes you look as though you’re too cowardly to address the issue one on one. If an issue arises during a team meeting, acknowledge the problem but say it needs to be addressed “privately between Sanath and me.”
4Be specific: A common error is to offer negative feedback in general terms such as, “Your reports aren’t very good.” Such comments leave the listener in the dark about precisely what ‘would’ constitute good performance. More specific comments such as “You’ve missed too many report deadlines this year” or “Directors are complaining that your reports are too long” are much more helpful.
4Be considerate: Make your remarks calm and rational--something that’s almost impossible to do when you are upset. Do your best to make certain that these are stated in palatable terms. You need not sugar-coat your remarks but do remember that being on the receiving end is as painful than delivering criticism. Finally, be sure to deliver negative feedback in private; criticizing people before others is never appropriate.
4Avoid threats: If there’s one thing that makes people angry when being criticized it is being threatened, directly or indirectly. Direct threats like “If you don’t start getting results, you’d better begin looking for another job” obviously will put someone on the defensive. Even relatively subtle remarks can also be unnerving. The key point is that threats back people into a corner and suggest that there’s no room for negotiation--either they do it your way or dire consequences will follow. This is usually counterproductive, especially when dealing with highly trained sales people.
4Focus on future, not past: It may be true that we must understand the past to change the future. However, where criticism is concerned, it can be a serious blunder to dwell on the past. Beyond a certain point, going back over the past mistakes just increases tension and assures that recipients will spend their time arguing rather than listening. It is usually more useful to concentrate on ‘where we go from here’--on what specific steps can be taken to improve the recipient’s performance.
Work environment
To most people, except for those who truly enjoy inflicting pain and embarrassment, providing negative feedback to subordinates is difficult. Certain pitfalls await anyone--even someone of exceptional good will--who must criticize others. Yet, basic guidelines will enhance the benefits of negative feedback and guide you past some of these pitfalls.
Effective people management cannot be accomplished without both positive and negative constructive criticism. Perfecting the technique of keeping criticisms within the guidelines will ensure that your subordinates know what they do well and where they need to improve. This is vital for a healthy and low stress work environment - for employees and leaders alike.
(The writer is a corporate director with over 25 years’ senior managerial experience. He can be contacted at lionwije@live.com)
Pengelolaan Sampah Berbasis Jaminan Sosial
Kepada Yth., Direktur BPJS Naker
Di Tempat
Perihal : Jaminan Kesehatan dan Sosial Masyarakat Kelas Bawah/ Community
Dengan hormat,
Bila kita mendengar kata sampah maka yang terbayang oleh kita adalah kotor, bau, jorok, sumber penyakit, lalat, becek dan banjir, perkotaan, jakar**, bandu**, beka**, suraba**, dll.
Bila kita kasuk ke perkampungan kumuh maka kita akan temukan masalah antara lain kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan pendidikan, gizi buruk, sanitasi buruk, tidak punya jaminan kesehatan apalagi jaminan kecelakaan, jaminan kematian dan tunjangan hari tua.
Berangkat dari dua kondisi tersebut kami ingin memberikan solusi mengawinkan masalah sampah dengan masalah jaminan sosial, dimana semua masyarakat khususnya masyarakat kelas bawah (seperti petani, nelayan, pedagang, pedagang asongan, penjual jamu, tukang becak, tukang ojek, pembantu rumah tangga, ibu-ibu rumah tangga, buruh kasar, buruh pelabuhan, sopir, pengangguran, dll.) akan mendapatkan Jaminan Kesehatan (rawat jalan dan rawat inap) seumur hidup, Jaminan Kecelakaan, Jaminan Kematian dan Tunjangan Hari Tua (pensiunan) layaknya PNS.
SK berlaku : Setiap orang menghasilkan sampah dan sampah tersebut harus disetorkan kepada kami Bank Sampah Indonesia. Setoran sampah secara berkala ini akan kami konpensasi kepada nasabah dalam bentuk jaminan sosial sebagaimana di atas.
Berdasarkan pengalaman kami di beberapa desa percontohan bahwa rata-rata setoran sampah oleh nasabah kami mencapai Rp. 72.000/ bulan. Tabungan Rp. 72.000 /bulan ini akan didistribusikan untuk premi jaminan sosial sbb:
Rp. 25.500 jaminan kesehatan
Rp. 12.000 jaminan kecelakaan
Rp. 3.600 jaminan kematian
Rp. 24.000 (min) jaminan hari tua
Sejalan dengan visi dan misi perusahaan sebagaimana di bawah ini, perkenankan kami mengajukan satu program perlindungan jaminan sosial bagi masyarakat kelas bawah seperti petani, nelayan, pedagang, pedagang asongan, penjual jamu, tukang becak, tukang ojek, pembantu rumah tangga, ibu-ibu rumah tangga, buruh kasar, buruh pelabuhan, sopir, dan kelompok warga susah ekonomi lainnya.
Berdasarkan inforkasi yang kami dapat dari kantor bpjs bahwa premi minimum yang wajib dibayar oleh nasabah adalah sebesar Rp. 39.600.00/ bulan (termasuk fee buat agen).
Berdasarkan program sosial Bank Sampah yang kami garap di beberapa desa bahwa rata-rata income nasabah dari setoran sampah per bulannya sebesar Rp. 72.000.00 dengan jumlah nasabah 300 orang setiap desa (premi setara dengan Rp. 11.880.000.00) dan menurut data statistik bahwa terdapat 79.700 desa (2012) di seluruh nusantara, maka potensi premi yang bisa didapatkan mencapai 300 orang x Rp. 39.600.00 x 79.700.00 = Rp. 946.836.000.000.00 setiap bulannya.
Sebagai korporasi tentunya selain bisa mengumpulkan premi juga mempunyai tugas mulia memberikan santunan kesehatan kepada masyarakat kelompok di atas dalam bentuk program CSR dimana income nasabah dari sampah yang mereka kumpulkan mencapai Rp. 72.000.00/ bulan, diambilkan Rp. 25.500.00 / bulan untuk premi BPJS Kesehatan sisanya bisa disetorkan sebagai premi THT di BPJSN.
Program ini sengaja kami tawarkan juga kepada BPJSN dengan harapan bisa melakukan pendekatan Top Down melalui eksekutif pemda propinsi dan kabupaten. Kami sudah mencoba melakukan pendekatan melalui kecamatan dan desa akan tetapi kecepatan tumbuhnya sangat pelan. Dengan sinergi ini diharakan perlindungan sosial bagi masyarakat yang lebih luas dapat dilakukan lebih aktif tidak terbatas pekerja formal sebagaimana diatur oleh regulasi yang selama ini dijalankan oleh bpjsn.
Dengan sinergi ini diharapkan perlindungan sosial bagi masyarakat yang lebih luas dapat dilakukan lebih aktif tidak terbatas pekerja formal sebagaimana diatur oleh regulasi. Besar harapan kami bahwa kita bisa diskusikan hal lebih rinci di kantor Bapak (catatan: ini bukan proyek bisnis akan tetapi proyek sosial).
Salam Jaminan Sosial,
Mohd. AA Hakim, CSR Consultant
M. 085210032728 (wa, wc, tg, line)
.....
PS. Perusahaan juga bisa undang kami untuk Program Klinik Sampah sebagai Program CSR di perusahaan/ ibu.
Rabu, 28 Mei 2014
Klinik Sampah
Surat terbuka buat kepala daerah dan direktur Perusahaan......
Kepada Yth., (Gubernur, Bupati, Walikota, Direktur, Aktifis Lingkungan)
Di Tempat
Perihal : Jaminan Kesehatan dan Sosial Masyarakat Kelas Bawah/ Community
Dengan hormat,
Bila kita mendengar kata sampah maka yang terbayang oleh kita adalah kotor, bau, jorok, sumber penyakit, lalat, becek dan banjir, perkotaan, jakar**, bandu**, beka**, suraba**, dll.
Bila kita kasuk ke perkampungan kumuh maka kita akan temukan masalah antara lain kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan pendidikan, gizi buruk, sanitasi buruk, tidak punya jaminan kesehatan apalagi jaminan kecelakaan, jaminan kematian dan tunjangan hari tua.
Berangkat dari dua kondisi tersebut kami ingin memberikan solusi mengawinkan masalah sampah dengan masalah jaminan sosial, dimana semua masyarakat khususnya masyarakat kelas bawah (seperti petani, nelayan, pedagang, pedagang asongan, penjual jamu, tukang becak, tukang ojek, pembantu rumah tangga, ibu-ibu rumah tangga, buruh kasar, buruh pelabuhan, sopir, pengangguran, dll.) akan mendapatkan Jaminan Kesehatan (rawat jalan dan rawat inap) seumur hidup, Jaminan Kecelakaan, Jaminan Kematian dan Tunjangan Hari Tua (pensiunan) layaknya PNS.
SK berlaku : Setiap orang menghasilkan sampah dan sampah tersebut harus disetorkan kepada kami Bank Sampah Indonesia. Setoran sampah secara berkala ini akan kami konpensasi kepada nasabah dalam bentuk jaminan sosial sebagaimana di atas.
Berdasarkan pengalaman kami di beberapa desa percontohan bahwa rata-rata setoran sampah oleh nasabah kami mencapai Rp. 72.000/ bulan. Tabungan Rp. 72.000 /bulan ini akan didistribusikan untuk premi jaminan sosial sbb:
Rp. 25.500 jaminan kesehatan
Rp. 12.000 jaminan kecelakaan
Rp. 3.600 jaminan kematian
Rp. 24.000 (min) jaminan hari tua
Program ini sengaja kami tawarkan kepada Bp. Gubernur/ Bupati/ Wako/ Direktur dengan harapan bisa melakukan pendekatan Top Down melalui eksekutif di Pemda Kota dan Kabupaten atau perusahaan. Kami sudah mencoba melakukan pendekatan melalui kecamatan dan desa akan tetapi kecepatan tumbuhnya sangat pelan.
Dengan sinergi ini diharapkan perlindungan sosial bagi masyarakat yang lebih luas dapat dilakukan lebih aktif tidak terbatas pekerja formal sebagaimana diatur oleh regulasi. Besar harapan kami bahwa kita bisa diskusikan hal lebih rinci di kantor Bapak (catatan ini bukan proyek bisnis akan tetapi proyek sosial).
Salam Jaminan Sosial,
Mohd. AA Hakim, CSR Consultant
M. 085210032728 (wa, wc, tg, line)
.....
PS. Perusahaan juga bisa undang kami untuk Program Klinik Sampah sebagai Program CSR di perusahaan/ ibu.